Revolusi Industri 1.0 terjadi pada abad
18, ketika ditemukan mesin-mesin bertenaga uap, yang mendorong manusia beralih
dari penggunaan tenaga hewan ke mesin-mesin produksi mekanis. Revolusi Industri
2.0 berlangsung di sekitar 1870 ketika perindustrian dunia mulai beralih ke
tenaga listrik yang mampu menciptakan produksi massal. Revolusi Industri 3.0 terjadi
di era 1960-an ditandai dengan penggunaan teknologi otomasi dalam kegiatan
industri. Kini, perindustrian dan manufaktur dunia bersiap menghadapi revolusi
industri 4.0; Industri 4.0.
Secara umum, definisi revolusi industri
adalah kemajuan teknologi yang besar disertai dengan perubahan sosial ekonomi
dan budaya yang signifikan. Terminologi Revolusi Industri 4.0 pertama kali
dikenal di Jerman pada 2011. Industri 4.0 ditandai dengan integrasi yang kuat
antara dunia digital dengan produksi industri. Revolusi Industri 4.0 merupakan
tren otomatisasi pertukaran data yang mementingkan peran internet untuk segala
hal (internet of things). Revolusi
industri 4.0 merupakan era digital ketika semua mesin terhubung melalui sistem
internet atau cyber system. Situasi ini tentunya membawa dampak perubahan besar
di masyarakat. Revolusi Industri 4.0 mempunyai potensi untuk menaikkan tingkat
pendapatan global dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat dunia.
Pada tahun 2018, Pemerintah Indonesia
meluncurkan sebuah roadmap atau peta jalan mengenai strategi Indonesia dalam
implementasi memasuki Industri 4.0 yang digagas Kementerian Perindustrian
dengan nama “Making Indonesia 4.0.
Program ini merupakan bentuk komitmen pemerintah
dalam membangun industri manufaktur yang berdaya saing global melalui
percepatan implementasi Industri 4.0.
Kementerian Perindustrian Republik Indonesia mendorong perusahaan dan industri,
baik yang berskala kecil maupun berskala nasional, agar mulai mempertimbangkan
untuk menggunakan teknologi berbasis internet seperti e-smart, Big Data, Autonomous Robots, Cybersecurity, Cloud, dan
Augmented Reality.
Secara fundamental revolusi industri
akan mengubah cara hidup, cara berinteraksi maupun berkomunikasi dan cara
menerima informasi. Revolusi Industri 4.0 mendorong terjadinya reformasi
pendidikan yang berkaitan erat dengan teknologi-teknologi yang sangat
dibutuhkan dalam perkembangan dunia pendidikan. Untuk itu kita harus mengetahui
bagaimana pendidikan yang baik bagi generasi muda Indonesia dalam menghadapi
Revolusi Industri 4.0.
Kementerian Riset, Teknologi, dan
Perguruan Tinggi (2018) dalam menghadapi Revolusi Industri 4.0 tengah
mempersiapkan strategi kebijakan di bidang pendidikan untuk meningkatkan
kualitas dari insan intelektual untuk menghadapi dunia kerja melalui
reorientasi kurikulum; yang mengacu pada pembelajaran dalam teknologi
informasi, ‘internet of things’, ‘big data’ dan komputerisasi, serta ‘entrepreneurship’
dan ‘internship’ harus menjadi kurikulum wajib. Kurikulum tersebut diharapkan
dapat menghasilkan lulusan perguruan tinggi yang terampil dan kompetitif dalam
aspek literasi data, literasi teknologi dan literasi manusia. Merekalah yang
akan menjadi insan intelektual Indonesia yang siap menjadi generasi penggerak
industri di masa yang akan datang.
Reginasari dan Annisa (2018) mengatakan
bahwa strategi kebijakan pemerintah dalam menghadapi era digital masih tidak
sejalan dengan kesenjangan digital khususnya di negara berkembang. Faktor
geografis, sosial dan ekonomi berpengaruh terhadap ketersediaan akses terhadap
informasi yang memadai. Mayoritas pengguna internet di Indonesia masih terpusat
di pulau Jawa.
Era pendidikan 4.0 merupakan tantangan
yang sangat berat bagi tenaga pendidik di dunia pendidikan Indonesia. Menghadapi
tantangan tersebut maka pendidikan dituntut untuk berubah juga. Seluruh
tingkatan pendidikan termasuk pendidikan dasar dan menengah. Pendidikan 4.0 harus
memanfaatkan teknologi digital dalam proses pembelajaran atau dikenal dengan
sistem siber (cyber system). Sistem ini dapat membuat proses pembelajaran dapat
berlangsung secara kontinu tanpa batas ruang dan batas waktu. Tenaga pendidik
seperti guru harus mengubah cara mendidik dan belajar–mengajar. Pendidikan dan
pembelajaran saat ini harus mampu menghasilkan peserta didik yang mampu
berkompetisi dengan mesin. Pendidikan yang seimbang antara karakter dan
literasi akan menjadikan peserta didik seseorang yang bijak dalam menggunakan
teknologi.
Menurut Reigeluth (2011) inovasi
pendidikan dalam metode pembelajaran dimulai dari bahan ajar, strategi
penyampaian dan pengelolaan kegiatan dengan memperhatikan tujuan, hambatan, dan
karakteristik peserta didik sehingga diperoleh hasil yang efektif, efisien, dan
menimbulkan daya tarik pembelajaran. Inovasi pembelajaan memungkikan peserta
didik memperoleh kemudahan dalam rangka mempelajari bahan ajar yang disampaikan
oleh guru (Kristiawan dan Rahmat, 2018), tentunya dengan memanfaatkan media
teknologi informasi.
Memasuki era revolusi industri 4.0 yang
ditandai dengan perkembangan teknologi dan informasi yang pesat, sumber daya manusia
(SDM) yang berkualitas sangat dibutuhkan terutama bidang pendidikan yang dalam
hal ini meliputi guru dan kepala sekolah. Pendidikan 4.0 tentunya menuntut
tenaga pendidik perlu ditingkatkan kualitas maupun kapabilitasnya terutama
dalam hal teknologi yang dapat mendukung proses pembelajaran. Guru sebagai
pendidik haruslah memahami bagaimana desain, metode, strategi, dan pendekatan
pembelajaran yang mengikuti perkembangan zaman. Guru diharapkan mampu
menggunakan aplikasi pada alat komunikasi maupun berbagai media sosial yang ada
saat ini. Kemampuan ini merupakan kemampuan yang menguasai ruang kehidupan saat
ini, akses terhadap segala informasi dapat diketahui melalui internet dimana
saja.
Guru-guru perlu merubah desain
pembelajaran dengan mengajak siswa-siswi untuk cerdas dalam menggunakan alat
teknologi informasi sebagai bagian dari kehidupan mereka agar mereka mampu
menggunakan secara positif dan memfilter yang negatif. Hal ini dikarenakan
puncak dari kemajuan yang ada akan memberikan dampak secara signifikan bagi
peserta didik, baik karakter, moralitas serta kepribadian mereka yang
diakibatkan dari ketidakmampuan dalam menggunakan dan memanfaatkan alat teknologi
untuk sebuah pembelajaran. Keseimbangan pola pikir yang mengikuti perkembangan
zaman dapat menjadi jawaban dalam menghadapi manusia di era revolusi industri
4.0.
Revolusi Industri 4.0 tidak bisa
dihindari, maka dari itu seluruh lapisan masyarakat harus memepersiapkan diri
agar dapat bertahan dan bersaing secara global.
Referensi:
http://www.kemenperin.go.id/artikel/17565/Empat-Strategi-Indonesia-Masuk-Revolusi-Industri-Keempat
Kementerian
Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia (2018).
Menristekdikti: Perlu Reorientasi Kurikulum untuk Meningkatkan inovasi
Perguruan Tinggi di era Revolusi Industri 4.0 September 28, 2018, from
https://ristekdikti.go.id/
kabar/menristekdikti-perlu-reorientasi-kurikulum-untuk-meningkatkan-inovasiperguruan-tinggi-di-era-revolusi-industri-4-0/
Reginasari,
Annisa. dan Annisa, Verdiantika. (2018). Menggali Pengalaman Menggunakan
Teknologi Berbasis Internet Dalam Mempersiapkan Indonesia Menuju Industri 4.0. Jurnal Penelitian Kebijakan Pendidikan. Vol.11,
No 3. DOI: https://doi.org/10.24832/jpkp.v11i3.211