Rabu, 20 Maret 2019

Indonesia Mengadapi Revolusi Industri 4.0

Diposting oleh Anisatus Sholihah di 04.46

Revolusi Industri 1.0 terjadi pada abad 18, ketika ditemukan mesin-mesin bertenaga uap, yang mendorong manusia beralih dari penggunaan tenaga hewan ke mesin-mesin produksi mekanis. Revolusi Industri 2.0 berlangsung di sekitar 1870 ketika perindustrian dunia mulai beralih ke tenaga listrik yang mampu menciptakan produksi massal. Revolusi Industri 3.0 terjadi di era 1960-an ditandai dengan penggunaan teknologi otomasi dalam kegiatan industri. Kini, perindustrian dan manufaktur dunia bersiap menghadapi revolusi industri 4.0; Industri 4.0.      
Secara umum, definisi revolusi industri adalah kemajuan teknologi yang besar disertai dengan perubahan sosial ekonomi dan budaya yang signifikan. Terminologi Revolusi Industri 4.0 pertama kali dikenal di Jerman pada 2011. Industri 4.0 ditandai dengan integrasi yang kuat antara dunia digital dengan produksi industri. Revolusi Industri 4.0 merupakan tren otomatisasi pertukaran data yang mementingkan peran internet untuk segala hal (internet of things). Revolusi industri 4.0 merupakan era digital ketika semua mesin terhubung melalui sistem internet atau cyber system. Situasi ini tentunya membawa dampak perubahan besar di masyarakat. Revolusi Industri 4.0 mempunyai potensi untuk menaikkan tingkat pendapatan global dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat dunia.
Pada tahun 2018, Pemerintah Indonesia meluncurkan sebuah roadmap atau peta jalan mengenai strategi Indonesia dalam implementasi memasuki Industri 4.0 yang digagas Kementerian Perindustrian dengan nama “Making Indonesia 4.0. Program ini merupakan bentuk komitmen pemerintah dalam membangun industri manufaktur yang berdaya saing global melalui percepatan implementasi Industri 4.0. Kementerian Perindustrian Republik Indonesia mendorong perusahaan dan industri, baik yang berskala kecil maupun berskala nasional, agar mulai mempertimbangkan untuk menggunakan teknologi berbasis internet seperti e-smart, Big Data, Autonomous Robots, Cybersecurity, Cloud, dan Augmented Reality.
Secara fundamental revolusi industri akan mengubah cara hidup, cara berinteraksi maupun berkomunikasi dan cara menerima informasi. Revolusi Industri 4.0 mendorong terjadinya reformasi pendidikan yang berkaitan erat dengan teknologi-teknologi yang sangat dibutuhkan dalam perkembangan dunia pendidikan. Untuk itu kita harus mengetahui bagaimana pendidikan yang baik bagi generasi muda Indonesia dalam menghadapi Revolusi Industri 4.0.
Kementerian Riset, Teknologi, dan Perguruan Tinggi (2018) dalam menghadapi Revolusi Industri 4.0 tengah mempersiapkan strategi kebijakan di bidang pendidikan untuk meningkatkan kualitas dari insan intelektual untuk menghadapi dunia kerja melalui reorientasi kurikulum; yang mengacu pada pembelajaran dalam teknologi informasi, ‘internet of things’, ‘big data’ dan komputerisasi, serta ‘entrepreneurship’ dan ‘internship’ harus menjadi kurikulum wajib. Kurikulum tersebut diharapkan dapat menghasilkan lulusan perguruan tinggi yang terampil dan kompetitif dalam aspek literasi data, literasi teknologi dan literasi manusia. Merekalah yang akan menjadi insan intelektual Indonesia yang siap menjadi generasi penggerak industri di masa yang akan datang.
Reginasari dan Annisa (2018) mengatakan bahwa strategi kebijakan pemerintah dalam menghadapi era digital masih tidak sejalan dengan kesenjangan digital khususnya di negara berkembang. Faktor geografis, sosial dan ekonomi berpengaruh terhadap ketersediaan akses terhadap informasi yang memadai. Mayoritas pengguna internet di Indonesia masih terpusat di pulau Jawa.
Era pendidikan 4.0 merupakan tantangan yang sangat berat bagi tenaga pendidik di dunia pendidikan Indonesia. Menghadapi tantangan tersebut maka pendidikan dituntut untuk berubah juga. Seluruh tingkatan pendidikan termasuk pendidikan dasar dan menengah. Pendidikan 4.0 harus memanfaatkan teknologi digital dalam proses pembelajaran atau dikenal dengan sistem siber (cyber system). Sistem ini dapat membuat proses pembelajaran dapat berlangsung secara kontinu tanpa batas ruang dan batas waktu. Tenaga pendidik seperti guru harus mengubah cara mendidik dan belajar–mengajar. Pendidikan dan pembelajaran saat ini harus mampu menghasilkan peserta didik yang mampu berkompetisi dengan mesin. Pendidikan yang seimbang antara karakter dan literasi akan menjadikan peserta didik seseorang yang bijak dalam menggunakan teknologi.
Menurut Reigeluth (2011) inovasi pendidikan dalam metode pembelajaran dimulai dari bahan ajar, strategi penyampaian dan pengelolaan kegiatan dengan memperhatikan tujuan, hambatan, dan karakteristik peserta didik sehingga diperoleh hasil yang efektif, efisien, dan menimbulkan daya tarik pembelajaran. Inovasi pembelajaan memungkikan peserta didik memperoleh kemudahan dalam rangka mempelajari bahan ajar yang disampaikan oleh guru (Kristiawan dan Rahmat, 2018), tentunya dengan memanfaatkan media teknologi informasi.
Memasuki era revolusi industri 4.0 yang ditandai dengan perkembangan teknologi dan informasi yang pesat, sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas sangat dibutuhkan terutama bidang pendidikan yang dalam hal ini meliputi guru dan kepala sekolah. Pendidikan 4.0 tentunya menuntut tenaga pendidik perlu ditingkatkan kualitas maupun kapabilitasnya terutama dalam hal teknologi yang dapat mendukung proses pembelajaran. Guru sebagai pendidik haruslah memahami bagaimana desain, metode, strategi, dan pendekatan pembelajaran yang mengikuti perkembangan zaman. Guru diharapkan mampu menggunakan aplikasi pada alat komunikasi maupun berbagai media sosial yang ada saat ini. Kemampuan ini merupakan kemampuan yang menguasai ruang kehidupan saat ini, akses terhadap segala informasi dapat diketahui melalui internet dimana saja.
Guru-guru perlu merubah desain pembelajaran dengan mengajak siswa-siswi untuk cerdas dalam menggunakan alat teknologi informasi sebagai bagian dari kehidupan mereka agar mereka mampu menggunakan secara positif dan memfilter yang negatif. Hal ini dikarenakan puncak dari kemajuan yang ada akan memberikan dampak secara signifikan bagi peserta didik, baik karakter, moralitas serta kepribadian mereka yang diakibatkan dari ketidakmampuan dalam menggunakan dan memanfaatkan alat teknologi untuk sebuah pembelajaran. Keseimbangan pola pikir yang mengikuti perkembangan zaman dapat menjadi jawaban dalam menghadapi manusia di era revolusi industri 4.0.
Revolusi Industri 4.0 tidak bisa dihindari, maka dari itu seluruh lapisan masyarakat harus memepersiapkan diri agar dapat bertahan dan bersaing secara global.

Referensi:
http://www.kemenperin.go.id/artikel/17565/Empat-Strategi-Indonesia-Masuk-Revolusi-Industri-Keempat
Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia (2018). Menristekdikti: Perlu Reorientasi Kurikulum untuk Meningkatkan inovasi Perguruan Tinggi di era Revolusi Industri 4.0 September 28, 2018, from https://ristekdikti.go.id/ kabar/menristekdikti-perlu-reorientasi-kurikulum-untuk-meningkatkan-inovasiperguruan-tinggi-di-era-revolusi-industri-4-0/
Reginasari, Annisa. dan Annisa, Verdiantika. (2018). Menggali Pengalaman Menggunakan Teknologi Berbasis Internet Dalam Mempersiapkan Indonesia Menuju Industri 4.0. Jurnal Penelitian Kebijakan Pendidikan. Vol.11, No 3. DOI: https://doi.org/10.24832/jpkp.v11i3.211

0 komentar:

Posting Komentar

 

Brand New Day Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos