Rabu, 13 Maret 2019

PENTINGNYA LITERASI MEDIA DALAM MENGHADAPI ERA MASYARAKAT INFORMASI

Diposting oleh Anisatus Sholihah di 04.59


Perkembangan teknologi komunikasi membawa perubahan terhadap pola berkomunikasi dalam kehidupan masyarakat. Manusia “dimanjakan” dengan berbagai kecanggihan teknologi, mulai dari munculnya alat komunikasi handphone sampai smartphone yang dilengkapi dengan bebagai fitur dan teknologi internet. Dengan bantuan Internet semua orang dapat saling terhubung tanpa perlu bertatap muka, hal tersebut tentunya semakin menghilangkan konsep jarak dan waktu. Internet dengan segala kelebihannya dapat mempermudah pekerjaan manusia di segala bidang, oleh karena itu masyarakat semakin tidak bisa lepas dari teknologi internet.
Teknologi komunikasi yang ada saat ini sering disebut sebagai media baru. Media baru mengubah bentuk komunikasi menjadi termediasi. Sehingga tak jarang teknologi komunikasi disebut juga sebagai teknologi media. Seperti yang diakatakan oleh McQuail (1994:20-6) mengenai karakteristik media baru, kita dapat menyimpulkan bahwa pada umumnya menyediakan berbagai saluran yang dapat menjadi sumber informasi, peningkatan kapasitas yang tersedia untuk pengiriman pesan melalui satelit, kabel dan jaringan computer, menjadi sarana bagi para penggunanya untuk terlibat dalam komunikasi interaktif, dan digitalisasi pesan.
Teknologi komunikasi yang terus menerus berkembang tentunya akan dibarengi dengan perubahan yang terjadi dalam masyarakat. Alvin Toffler (1980) menyatakan bahwa era kemanusiaan dibagi dalam tiga era pokok, yaitu era masyarakat agraris, masyarakat industri dan masyarakat informasi, yang saat ini telah dan sedang menjadi kenyataan umum yang mau tidak mau diakui. Masyarakat informasi menurut Straubhar adalah masyarakat yang mempunyai aktivitas ekonomi politik-sosial melalui proses produksi, konsumsi dan distribusi informasi. Masyarakat informasi ditandai dengan intensitas yang tinggi atas pertukaran dan penggunaan teknologi komunikasi (Straubhar, 2002).
Kita dapat melihat dalam realitas yang kita hadapi saat ini bahwa Internet telah membawa perubahan yang sangat besar terutama dengan kaitannya dengan arus informasi. Bahkan media massa tradisional kini telah media massa baru. Begitu juga media massa di Indonesia, yang juga sudah sangat beragam dan turut menggunakan Internet sebagai media penyebarluasan informasi. Internet kini menjadi gudangnya informasi, segala jenis kebutuhan informasi dapat terpenuhi dengan bantuan internet. Kemudahan dalam mengakses informasi melalui berbagai teknologi media menjadika masyarakat tidak bisa dilepaskan dari teknologi media.
Dengan mempelajari perkembangan teknologi komunikasi yang sedikit banyak sudah dipaparkan diatas, penulis menaruh perhatian pada bagaimana media yang amat beragam saat ini tidak selalu memberikan dampak positif bagi masyarakat, khususnya di Indonesia. Media yang dimaksud penulis yaitu segala jenis media massa, seperti contoh televise, radio, surat kabar online, majalah online dll. Masing-masing yang disebutkan tadi saat ini sangatlah beragam jenisnya, misalnya saja televisi nasional di Indonesia saat ini jumlahnya ada 15. Media massa yang sangat beragam ini tentunya memberikan masyarakat kemudahan akses terhadap berbagai jenis informasi, serta menghubungkan masyarakat yang terpisah jarak dan waktu.
Namun semua hal yang memberikan dampak positif hadir bersama dengan dampak negatif. Lalu apa yang menjadi dampak negatif dari keberagaman media massa di Indonesia?
Dengan adanya berbagai media, informasi yang tersedia pun kini menjadi sangat beragam. Sayangnya tidak semua informasi dari media mengandung sebuah kebenaran. Hal tersebut bisa terjadi karena industri media saat ini lebih berorientasi uang atau keuntungan bagi perusahaan, sehingga terkadang tidak mempertimbangkan kepentingan publik. Akibat dari arus yang kuat atas kepentingan uang, media mainstream menjadi tidak independen, objektif dan akurat. Hal ini tentunya menjadi masalah baru bagi publik yang seharusnya mendapatkan informasi yang sebenar-benarnya dan sekaligus positif bagi masyarakat justru mendapatkan informasi yang salah dan negatif.
Masalah yang terjadi diantaranya yaitu berupa tayangan atau bacaan yang disktrimantif terhadap suatu ras, gender, dan agama. Termasuk masalah anak dan Hak Asasi Manusia yang terabaikan dan tergantikan dengan berita tak berbobot. Akibatnya informasi dan pendidikan yang tidak berimbang mengenai kemanusiaan, seakan tidak ada rasa peduli pada lingkungan, menimbulkan perselisihan antar ras, agama maupun budaya yang mengancam persatuan bangsa Indonesia.
Informasi yang didapat masyarakat dari media didominasi kepentingan komersil sehingga menjadi tidak ramah publik. Contoh yang dapat kita amati langsung yaitu media Indonesia pada tahun 2019 ini yang merupakan tahun politik. Pemilihan presiden yang akan berlansung pada bulan April tentunya menjadi topik yang sedang sangat ramai dibicarakan oleh masyarakat Indonesia. Demi memilih presiden yang tepat, masyarakat akan berusaha mengenal para pasangan calon dengan mencari informasi dari berbagai media. Namun yang menjadi masalah, beberapa media di Indonesia kini diragukan kenetralannya. Beberapa media hanya menyediakan informasi yang baik mengenai satu pasangan calon dan menyediakan informasi yang buruk bagi pasangan lainnya. Hal tersebut tentunya sangat disayangkan mengingat media adalah sumber informasi yang sudah semestinya menyediakan informasi yang akurat bagi masyarakat. Jika media-media berpihak pada suatu kelompok maka publik tidak mempunyai ruang untuk berpartisipasi dan mencari informasi yang benar benar mereka butuhkan.
Industri media yang telah dijabarkan diatas tentunya menjadi ancaman bagi masyarakat Indonesia. Media yang berisi tontonan dan bacaan yang mengandung informasi yang salah, mengandung diskriminasi SARA, dan berita yang berpihak akan mengancam persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia. Pada dasarnya, perpecahan dapat terjadi karena masyarakat menerima informasi yang salah atau hoax dengan mudah. Masih banyak masyarakat Indonesia belum memiliki sifat kritis terhadap informasi yang diterima, menerima begitu saja tanpa memeriksa kebenaran dari informasi tersebut.
Bagaimana menumbuhkan pola pikir kritis pada masyarakat?
Kondisi dimana masyarakat kurang kritis terhadap informasi yang diperolehnya disebabkan oleh masyarakat yang kurang literasi media. Literasi media adalah “ability to access, analize, evaluate and communicate the content of media massa”. Literasi media juga bermakna kemampuan untuk memahami, menganalisis dan mendekonstruksi pencitraan media. Kemampuan melakukan ini ditujukan pada konsumen media massa agar menjadi sadar atau melek tentang cara media dikonstruksi/dibuat dan diakses. Literasi media juga dikenal dengan melek media.
Masyarakat seharusnya mendapatkan literasi media sehingga dapat lebih bijak dalam menggunakan media dan menyaring informasi yang didapat melalui media. Sayangnya, masyarakat Indonesia masih kurang literasi media, hal tersebut dapat terlihat dari bagaimana dalam tahun politik menjelang pilpres 2019 ini banyak sekali bertebaran berita hoax dan berita berisikan kebencian terhadap kedua pasangan calon. Masyarakat mudah tersulut emosi karena media yg berisikan diskriminasi pada suatu ras atau agama tertentu.
Seluruh masyarakat Indonesia harus mulai sadar akan pentingnya literasi media. Bahu membahu dalam menjadikan seluruh masyarakat melek media demi majunya masyarakat Indonesia.

0 komentar:

Posting Komentar

 

Brand New Day Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos